Blog Archives

Bayi Lahir Prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah akibat Penyakit Gusi pada Ibu

Seringkali kita mendengar seorang ibu yang sedang mengandung mengeluhkan gusinya sakit, bengkak, mudah berdarah. Lalu kemudian bertanya kepada tetangga atau temannya apakah boleh pergi berobat ke dokter gigi, lantas kebanyakan jawabannya adalah TIDAK. Ibu hamil dilarang pergi ke dokter gigi.

Salah kaprah ini masih banyak terjadi di Indonesia. Kondisi gigi dan gusi ibu hamil tidak seperti layaknya wanita pada umumnya. Kondisi gusi terutama, sangat rentan mengalami penyakit. Gusi merah, bengkak, mudah berdarah. Hal ini biasa terjadi pada ibu hamil dan disebut dengan gingivitis gravidarum. Radang gusi akibat kehamilan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengaruh hormonal.

Pada trisemester pertama, ibu biasanya mengalami gejala mual muntah, sehingga tindakan menyikat gigi menjadi terganggu. Hal in kemudian menyebabkan kebersihan gigi dan mulut menurun drastis. Menumpuknya plak dan karang gigi menyebabkan kondisi gusi ibu hamil memburuk.

Menurut penelitian, penyakit gusi atau gingivitis gravidarum dan/atau periodontitis ini mengandung banyak sekali bakteri. Salah satunya adalah bakteri gram negatif yaitu P. gingivalis. Bakteri ini dapat menembus ke dalam plasenta. Kondisi ini membuat kehamilan menjadi beresiko.

Kelahiran prematur didefinisikan sebagai kelahiran dibawah 37 minggu. Menurut penelitian, kelahiran prematur ini banyak terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagian besar ibu yang melahirkan bayi prematur memiliki kondisi gusi yang buruk. Meski tidak semua kelahiran prematur disebabkan oleh penyakit gusi pada ibu, tetapi kondisi gusi ibu sangat mempengaruhi kelahiran prematur.

Bayi dengan berat lahir rendah disebutkan kurang dari 2500gr. Menurut penelitian, hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi gusi sang ibu ketika mengandung. Banyaknya bakteri pada penyakit gusi yang ada pada ibu hamil ini dapat diatasi dengan tindakan kebersihan gigi dan mulut yang baik dan benar.

Menyikat gigi dua kali sehari, dan perbanyak makan buah dan sayur sehingga gigi lebih sering digunakan untuk mengunyah. Dengan mengunyah, maka self cleansing menjadi lebih baik. Kemudian kunjungi dokter gigi pada trisemester kedua untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh pada gusi dan gigi. Tidak lupa untuk meminta dokter gigi membersihkan karang gigi yang ada, dan menambal gigi yang berlubang. Perbanyak minum air putih dan gunakan obat kumur khusus untuk gusi bila perlu.

Dengan menjaga kondisi gigi dan mulut tetap sehat, diharapkan dapat menurunkan resiko kelahiran bayi prematur dan/atau bayi berat lahir rendah. Segera konsultasikan gigi dan gusi anda pada dokter gigi kesayangan anda.

 

Salam,

Healthy Teeth for Healthy Life.

 

References:

  • Association of pregnant women periodontal status to preterm and low-birth weight babies: A systematic and evidence-based review. Dent Res J (Isfahan). 2012 Jul-Aug; 9(4): 368–380.
  • Relationship between periodontal diseases and preterm birth: Recent epidemiological and biological data. Int J Appl Basic Med Res. 2015 Jan-Apr; 5(1): 2–6.

  • Systemic Diseases Caused by Oral Infection. CLINICAL MICROBIOLOGY REVIEWS, Oct. 2000, p. 547–558.

 

Advertisements

Kok gusiku berdarah saat menyikat gigi ya??

Pernahkah anda mengalami gusi berdarah saat menyikat gigi? Jika ya, coba perhatikan kapan anda terakhir membersihkan karang gigi? Perhatikan pula gusi anda, apakah kemerahan? Sedikit bengkak? Terasa agak gatal? Ada sensasi tertentu ketika gusi disentuh?

Nah nah.. hati – hati radang gusi ya..

Gusi yang sehat itu berwarna merah muda (pink), konsistensi kenyal (tidak lembek ataupun keras), dengan ujung – ujung interdental yang lancip. Bila terdapat plak atau karang gigi yang mengandung bakteri, maka bakteri akan mengganggu kondisi gusi sehingga menyebabkan peradangan.

Gejala radang gusi antara lain gusi merah, sedikit bengkak, mudah berdarah meski dengan sentuhan ringan saja, ujung – ujung gusi (interdental) menjadi tumpul. Radang gusi awal ini biasa disebut dengan gingivitis. Tampak ringan dan biasanya penderita belum menyadari bahwa gusinya bermasalah.

Tahap lebih lanjut yaitu bakteri pada penyakit radang gusi ini yang bersifat anaerob (tidak suka oksigen) akan melanjutkan aktivitasnya masuk kedalam gusi, membuat kantung patologis (poket) pada gusi, merusak serat – serat gusi (ligament periodontal) yang melekatkan gigi ke tulang. Bila sudah mencapai tahap ini, biasanya gusi sudah tidak mudah berdarah, namun ada sensasi tertentu ketika gigi digunakan untuk mengunyah, atau ketika gusi ditekan. Seperti sensasi gatal, atau nyaman bila ditekan – tekan. Kondisi lanjut ini biasanya disebut periodontitis.

Periodontitis ini memiliki beberapa tahap, dimana tahap beratnya adalah mulai rusaknya tulang oleh bakteri. Bila bakteri sudah mulai merusak tulang, dan kemudian dibiarkan, maka yang terjadi adalah kegoyangan gigi. Karena tulang sudah tak mampu lagi menahan gigi dalam posisinya, sehingga gigi akan goyang.

Penanganan radang gusi dilakukan sesuai tingkat keparahannya. Bila masih pada tahap awal (gingivitis) biasanya hanya diperlukan scaling (pembersihan karang gigi) dan dengan perubahan cara dan durasi sikat gigi. Pemeliharan kebersihan gigi dan mulut dirumah yang baik dan benar akan membantu pemulihan.

Bila sudah masuk pada tahap periodontitis awal, akan diperlukan tambahan penanganan yaitu kuretase. Disini, akan dibersihkan jaringan – jaringan mati dalam kantung gusi akibat aktivitas bakteri, sehingga diharapkan jaringan baru yang sehat akan terangsang untuk melakukan perbaikan dan kantung gusi kembali kearah normal.periodontal_disease

Namun, bilamana tingkat penyakit sudah lanjut, periodontitis berat dimana sudah terjadi kerusakan tulang, maka diperlukan pencangkokan tulang (bone graft). Disni biasanya diperlukan foto rontgen gigi untuk melihat seberapa parah tingkat kerusakan tulang. Terapi ini juga perlu diperhatikan bila pasien mengalami diabetes mellitus, karena prognosisnya yang sangat tergantung pada kadar gula darah pasien. Apakah terkontrol atau tidak.

Cara termudah untuk merawat gusi adalah dengan mencegah adanya karang gigi. Yaitu, dengan menyikat gigi dua kali sehari, 30 menit setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur. Kemudian kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Banyak minum air putih, untuk membantu melarutkan sisa makanan, dan membersihkan plak sehingga tidak mudah menempel pada gigi. Bila ada gigi yang berlubang, segera ditambal agar dapat melakukan pengunyahan di kedua sisi gigi. Mengapa? Karena dengan mengunyah di kedua sisi, akan membantu self cleansing dari air liur (saliva). Dengan mengunyah, diharapkan gigi berfungsi dengan baik, air liur mengalir dengan semestinya, dan membantu melarutkan plak sehingga tidak melekat erat pada gigi dan gusi.

Salam sehat,

Healthy Teeth for Healthy Life.

References:

Benarkah Merokok Dapat Mengganggu Kesehatan Gigi dan Mulut??

“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin”

Slogan itulah yang umumnya menjadi pusat perhatian bagi masyarakat umum. Hampir tidak pernah ada slogan yang menyebutkan bahwa merokok juga menyebabkan gangguan kesehatan gigi dan mulut. Pasti anda bertanya, “memang bisa?”

Tentu saja bisa, dan sudah pasti iya. Penasaran? Jadi begini ceritanya,

cigar

Orang yang merokok memiliki karakteristik yang khas pada mulutnya, diantaranya:

Bau mulut yang khas
Perubahan warna gigi dari mulai kekuningan, cokelat, hingga bercak kehitaman.
– Bibir dan gusi yang berwarna kehitaman
– Mudah terbentuk plak dan karang gigi

smoker melanosisSmoker’s Melanosis (Pigmentasi Kehitaman akibat Merokok)

 

Rokok, dan segala kandungan didalamnya memang tidak secara langsung menyebabkan penyakit gigi dan mulut tetapi seiring berjalannya waktu, kebiasaan merokok dapat menyebabkan hal – hal berikut:

– Meningkatkan resiko penurunan tulang rahang
– Meningkatkan resko adanya leukoplakia, bercak putih didalam mulut
– Meningkatkan resiko penyakit gusi, dari yang ringan hingga berat menyebabkan gigi goyang dan tanggal
– Menyebabkan tertundanya proses penyembuhan setelah pencabutan gigi, perawatan gusi, atau bedah mulut
– Menurunkan tingkat keberhasilan prosedur pemasangan implan gigi.
– Meningkatkan resiko berkembangnya kanker mulut.

Periodontal-Disease

Merokok, menyebabkan terganggunya aktivitas sel imun, sehingga ketika plak dan karang gigi menempel di permukaan gigi yang dekat dengan gusi, bakteri akan dengan mudah masuk kedalam gusi. Bakteri tersebut kemudian dengan bebas merusak tulang, membuat tulang menjadi turun dan semakin rendah. Bila sudah demikian, maka selanjutnya yang terjadi adalah kegoyangan gigi karena sudah tidak lagi ditopang oleh tulang.

Merokok juga mengganggu aktivitas sel – sel darah yang diperlukan untuk penyembuhan luka. Tindakan pencabutan gigi pada pasien merokok memiliki tingkat kesembuhan yang lebih rendah dibanding pasien yang bukan perokok. Merokok menggangu jalannya sel – sel darah yang sedang bekerja menutup luka, membuat luka kembali terbuka, lambat sembuh atau malah tidak sembuh sama sekali. Itulah mengapa setelah tindakan pencabutan dokter gigi selalu  menganjurkan pasiennya untuk tidak merokok minimal 3 – 5 hari paska tindakan.

 oralcancer2Kanker Mulut Akibat Merokok

 

Terlambatkah bila berhenti merokok sekarang?

Tidak ada kata terlambat untuk hal – hal yang baik. Dengan berhenti merokok, maka jaringan gusi akan mengalami perbaikan secara bertahap.

Tentu, tidak pulih dengan sendirinya, tetapi dengan bantuan dan pantauan dokter gigi. Seiring program berhenti merokok, sebaiknya lakukan kunjungan rutin ke dokter gigi untuk dilakukan perawatan gusi, sesuai indikasi. Terkadang dokter gigi juga memerlukan rontgen untuk mengetahui seberapa jauh kerusakan tulang rahang pada pasien. Dengan bekerja sama dengan dokter gigi umum maupun spesialis periodontik kerusakan tulang dan penyakit gusi yang terjadi bisa diatasi, meski pemulihanya tidak secepat pasien yang tidak merokok.

Harapan sembuh selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Jauhi rokok, sayangi gigi dan mulut, sayangi paru – paru, dan terutama, sayangi keluarga anda.

Salam,

Healthy Teeth for Healthy Life. 😀

 

Referensi:

– http://www1.umn.edu/perio/tobacco/tobperio.html

– http://www.webmd.com/oral-health/guide/smoking-oral-health

– http://www.adelaide.edu.au/arcpoh/dperu/cpep/info/smoking.html