Bayi Lahir Prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah akibat Penyakit Gusi pada Ibu

Seringkali kita mendengar seorang ibu yang sedang mengandung mengeluhkan gusinya sakit, bengkak, mudah berdarah. Lalu kemudian bertanya kepada tetangga atau temannya apakah boleh pergi berobat ke dokter gigi, lantas kebanyakan jawabannya adalah TIDAK. Ibu hamil dilarang pergi ke dokter gigi.

Salah kaprah ini masih banyak terjadi di Indonesia. Kondisi gigi dan gusi ibu hamil tidak seperti layaknya wanita pada umumnya. Kondisi gusi terutama, sangat rentan mengalami penyakit. Gusi merah, bengkak, mudah berdarah. Hal ini biasa terjadi pada ibu hamil dan disebut dengan gingivitis gravidarum. Radang gusi akibat kehamilan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengaruh hormonal.

Pada trisemester pertama, ibu biasanya mengalami gejala mual muntah, sehingga tindakan menyikat gigi menjadi terganggu. Hal in kemudian menyebabkan kebersihan gigi dan mulut menurun drastis. Menumpuknya plak dan karang gigi menyebabkan kondisi gusi ibu hamil memburuk.

Menurut penelitian, penyakit gusi atau gingivitis gravidarum dan/atau periodontitis ini mengandung banyak sekali bakteri. Salah satunya adalah bakteri gram negatif yaitu P. gingivalis. Bakteri ini dapat menembus ke dalam plasenta. Kondisi ini membuat kehamilan menjadi beresiko.

Kelahiran prematur didefinisikan sebagai kelahiran dibawah 37 minggu. Menurut penelitian, kelahiran prematur ini banyak terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagian besar ibu yang melahirkan bayi prematur memiliki kondisi gusi yang buruk. Meski tidak semua kelahiran prematur disebabkan oleh penyakit gusi pada ibu, tetapi kondisi gusi ibu sangat mempengaruhi kelahiran prematur.

Bayi dengan berat lahir rendah disebutkan kurang dari 2500gr. Menurut penelitian, hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi gusi sang ibu ketika mengandung. Banyaknya bakteri pada penyakit gusi yang ada pada ibu hamil ini dapat diatasi dengan tindakan kebersihan gigi dan mulut yang baik dan benar.

Menyikat gigi dua kali sehari, dan perbanyak makan buah dan sayur sehingga gigi lebih sering digunakan untuk mengunyah. Dengan mengunyah, maka self cleansing menjadi lebih baik. Kemudian kunjungi dokter gigi pada trisemester kedua untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh pada gusi dan gigi. Tidak lupa untuk meminta dokter gigi membersihkan karang gigi yang ada, dan menambal gigi yang berlubang. Perbanyak minum air putih dan gunakan obat kumur khusus untuk gusi bila perlu.

Dengan menjaga kondisi gigi dan mulut tetap sehat, diharapkan dapat menurunkan resiko kelahiran bayi prematur dan/atau bayi berat lahir rendah. Segera konsultasikan gigi dan gusi anda pada dokter gigi kesayangan anda.

 

Salam,

Healthy Teeth for Healthy Life.

 

References:

  • Association of pregnant women periodontal status to preterm and low-birth weight babies: A systematic and evidence-based review. Dent Res J (Isfahan). 2012 Jul-Aug; 9(4): 368–380.
  • Relationship between periodontal diseases and preterm birth: Recent epidemiological and biological data. Int J Appl Basic Med Res. 2015 Jan-Apr; 5(1): 2–6.

  • Systemic Diseases Caused by Oral Infection. CLINICAL MICROBIOLOGY REVIEWS, Oct. 2000, p. 547–558.

 

Kok gusiku berdarah saat menyikat gigi ya??

Pernahkah anda mengalami gusi berdarah saat menyikat gigi? Jika ya, coba perhatikan kapan anda terakhir membersihkan karang gigi? Perhatikan pula gusi anda, apakah kemerahan? Sedikit bengkak? Terasa agak gatal? Ada sensasi tertentu ketika gusi disentuh?

Nah nah.. hati – hati radang gusi ya..

Gusi yang sehat itu berwarna merah muda (pink), konsistensi kenyal (tidak lembek ataupun keras), dengan ujung – ujung interdental yang lancip. Bila terdapat plak atau karang gigi yang mengandung bakteri, maka bakteri akan mengganggu kondisi gusi sehingga menyebabkan peradangan.

Gejala radang gusi antara lain gusi merah, sedikit bengkak, mudah berdarah meski dengan sentuhan ringan saja, ujung – ujung gusi (interdental) menjadi tumpul. Radang gusi awal ini biasa disebut dengan gingivitis. Tampak ringan dan biasanya penderita belum menyadari bahwa gusinya bermasalah.

Tahap lebih lanjut yaitu bakteri pada penyakit radang gusi ini yang bersifat anaerob (tidak suka oksigen) akan melanjutkan aktivitasnya masuk kedalam gusi, membuat kantung patologis (poket) pada gusi, merusak serat – serat gusi (ligament periodontal) yang melekatkan gigi ke tulang. Bila sudah mencapai tahap ini, biasanya gusi sudah tidak mudah berdarah, namun ada sensasi tertentu ketika gigi digunakan untuk mengunyah, atau ketika gusi ditekan. Seperti sensasi gatal, atau nyaman bila ditekan – tekan. Kondisi lanjut ini biasanya disebut periodontitis.

Periodontitis ini memiliki beberapa tahap, dimana tahap beratnya adalah mulai rusaknya tulang oleh bakteri. Bila bakteri sudah mulai merusak tulang, dan kemudian dibiarkan, maka yang terjadi adalah kegoyangan gigi. Karena tulang sudah tak mampu lagi menahan gigi dalam posisinya, sehingga gigi akan goyang.

Penanganan radang gusi dilakukan sesuai tingkat keparahannya. Bila masih pada tahap awal (gingivitis) biasanya hanya diperlukan scaling (pembersihan karang gigi) dan dengan perubahan cara dan durasi sikat gigi. Pemeliharan kebersihan gigi dan mulut dirumah yang baik dan benar akan membantu pemulihan.

Bila sudah masuk pada tahap periodontitis awal, akan diperlukan tambahan penanganan yaitu kuretase. Disini, akan dibersihkan jaringan – jaringan mati dalam kantung gusi akibat aktivitas bakteri, sehingga diharapkan jaringan baru yang sehat akan terangsang untuk melakukan perbaikan dan kantung gusi kembali kearah normal.periodontal_disease

Namun, bilamana tingkat penyakit sudah lanjut, periodontitis berat dimana sudah terjadi kerusakan tulang, maka diperlukan pencangkokan tulang (bone graft). Disni biasanya diperlukan foto rontgen gigi untuk melihat seberapa parah tingkat kerusakan tulang. Terapi ini juga perlu diperhatikan bila pasien mengalami diabetes mellitus, karena prognosisnya yang sangat tergantung pada kadar gula darah pasien. Apakah terkontrol atau tidak.

Cara termudah untuk merawat gusi adalah dengan mencegah adanya karang gigi. Yaitu, dengan menyikat gigi dua kali sehari, 30 menit setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur. Kemudian kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Banyak minum air putih, untuk membantu melarutkan sisa makanan, dan membersihkan plak sehingga tidak mudah menempel pada gigi. Bila ada gigi yang berlubang, segera ditambal agar dapat melakukan pengunyahan di kedua sisi gigi. Mengapa? Karena dengan mengunyah di kedua sisi, akan membantu self cleansing dari air liur (saliva). Dengan mengunyah, diharapkan gigi berfungsi dengan baik, air liur mengalir dengan semestinya, dan membantu melarutkan plak sehingga tidak melekat erat pada gigi dan gusi.

Salam sehat,

Healthy Teeth for Healthy Life.

References:

Dental X-ray atau Foto Rontgen Gigi, Amankah???

Pernahkah anda pergi ke dokter gigi kemudian diminta untuk melakukan rontgen gigi? Sebenarnya untuk apa sih rontgen gigi itu? Seberapa penting rontgen gigi bagi anda dan dokter gigi anda? Yuk, mari kita bicarakan…

Rontgen gigi atau Dental radiograf atau Dental X-ray merupakan gambaran dari gigi, tulang, dan jaringan lunak disekitarnya dalam bentuk film negatif (hitam-putih) yang dapat membantu mendeteksi masalah pada gigi, mulut, dan rahang.

Gambar yang dihasilkan oleh dental X-ray dapat menunjukkan kavitas/lubang pada gigi, struktur gigi yang tak terlihat (seperti gigi geraham bungsu), dan penurunan tulang rahang yang tak dapat terlihat pada pemeriksaan gigi rutin secara visual biasa.

Jenis – jenis dental X-ray yang sering digunakan:

  • Bitewing X-ray menunjukkan gigi belakang atas dan bawah dan bagaimana gigi saling berkontak satu sama lain dalam satu pandangan. X-ray jenis ini digunakan untuk melihat adanya karies/lubang pada gigi, karies antar gigi (karies proksimal) dan untuk menunjukkan seberapa baik gigi geligi berkontak antara atas dan bawah. X-ray jenis ini juga dapat menunjukkan kerusakan tulang ketika terdapat penyakit gusi yang berat atau adanya infeksi gigi serius.

  •  Periapical X-ray menunjukkan gambaran gigi yang utuh (mencakup beberapa gigi dari mahkota hingga ujung akar) hingga ke tulang rahang disekitarnya, X-ray ini digunakan untuk menemukan masalah gigi dibawah garis gusi atau didalam rahang, seperti gigi impaksi, abses, kista, tumor, dan perubahan tulang terkait beberapa penyakit.

  • Oklusal X-ray  menunjukkan atap atau dasar mulut dan digunakan untuk menemukan adanya gigi berlebih, gigi yang belum erupsi atau belum tumbuh ke permukaan gusi, fraktur/patah tulang rahang, celah di atap mulut (cleft palate), kista, abses, atau kelainan pertumbuhan. X-ray jenis ini juga dapat digunakan untuk menemukan benda asing dalam mulut.

  • Panoramik X-ray  menunjukkan pandangan pada seluruh gigi dan rahang atas dan bawah hingga ke sinus, daerah hidung, dan sendi rahang (temporomandibula). X-ray ini kurang akurat dalam menemukan kavitas/lubang gigi. X-ray ini dapat membantu menemukan gigi yang impaksi, kelainan tulang, kista, tumor, infeksi, dan fraktur/patah.

  • Cephalo X-ray  diperlukan untuk mengetahui hubungan antara gigi dan rahang dengan tulang tengkorak.  Biasanya diperlukan ketika melakukan perawatan kawat gigi atau orthodonsi.

  • Digital X-ray, yaitu X-ray yang dapat dikirim ke komputer untuk direkam dan disimpan.

Seberapa sering anda harus menjalani pemeriksaan rontgen gigi ini tergantung kepada kebutuhan masing – masing pasien. Biasanya, anak – anak akan memerlukan Dental X-ray lebih sering daripada orang dewasa, karena anak – anak perlu dipantau pertumbuhan giginya, untuk mencegah terjadinya penumpukan gigi tetapnya.

Biasanya, bila anda adalah pasien baru di suatu klinik, maka akan diminta untuk menjalani pemeriksaan dental x-ray, tetapi bila anda sudah pernah menjalani dental X-ray atau rontgen gigi sebelumnya, maka biasanya anda bisa memberikan hasilnya kepada dokter gigi yang memeriksa anda sekarang.

Dental X-ray bisa dilakukan sebelum pemeriksaan, selama perjalanan pemeriksaan dan perawatan di dokter gigi, maupun setelah perawatan gigi selesai. Tergantung pada indikasi penyakit, kebutuhan anda dan dokter gigi.

Dental X-ray, amankah untuk saya??

Dental X-ray merupakan prosedur yang aman. Paparan radiasinya sangat rendah, sehingga resiko efek samping radiasinya pun rendah. Peralatan Dental X-ray dan tehniknya didesain sedimikan rupa untuk membatasi paparan radiasi ke tubuh dan setiap pemotretan selalu dipastikan bahwa paparan radiasinya As Low As Reasonable Achievable (prinsip ALARA) atau serendah mungkin yang bisa dicapai. Untuk foto rontgen panoramik dan sefalo biasanya pasien akan dipakaikan apron atau pelindung tubuh sedemikian rupa sehingga tetap bisa memberikan hasil foto yang baik dengan perlindungan maksimal.

Amankah untuk pasien hamil? 

Bagi anda yang sedang mengandung, tolong beritahu dokter gigi bila anda diminta untuk menjalani dental X-ray. Biasanya jika tidak terlalu penting maka dental X-ray akan ditunda. Pemeriksaan dental X-ray tetap bisa dilakukan dengan aman bagi ibu hamil dengan perlindungan ekstra yaitu memakai apron dan thyroid collar. Bila sangat penting dan kasus emergency, anda yang sedang hamil bisa tetap menjalani dental X-ray ini dengan aman dan nyaman.

Yang perlu diperhatikan adalah dental X-ray ini aman, dan akan sangat membantu dokter gigi dalam menentukan rencana perawatan kedepannya. Tentunya juga sangat berguna bagi anda terutama pasien anak untuk memantau tumbuh kembang rahang dan giginya, dan pasien yang mengalami penyakit serius seperti kista rahang atau tumor. Selain itu, Dental X-ray juga membantu keberhasilan perawatan saluran akar (endodontic) sehingga hasil perawatan bisa maksimal.

Salam,

Healthy Teeth for Healthy Life.

References:

http://www.wisegeek.com/why-are-dental-x-rays-important.htm

http://www.webmd.com/oral-health/dental-x-rays

http://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/x/x-rays

Tips Mengatasi Bibir Kering dan Pecah – Pecah

Pernah mengalami bibir kering dan pecah – pecah?? Rasanya hampir semua orang pernah mengalaminya ya?

exfoliative-cheilitis2-s

Bibir pecah – pecah atau Cheilitis Exfoliative nama kerennya, merupakan kondisibibir dimana lapisan keratin bibir terkoyak atau terkelupas. Kondisi bibir seperti ini bisa jadi ringan maupun berat hingga berdarah dan meninggalkan bekas luka seperti keropeng di permukaan bibir luar. Terkadang disertai sedikit pembengkakan, dan rasa perih, sakit, mengganggu aktivitas makan, bicara dan tersenyum.

Cheilitis Exfoliative ini banyak disalah artikan dengan kekurangan cairan pada bibir sehingga orang dengan kondisi seperti ini biasanya justru makin sering menjilat bibirnya atau membasahi bibir dengan air ludahnya. Padahal, dengan meneruskan kebiasaan membasahi bibir dengan air ludah malah akan memperparah kondisi bibir pecah – pecah ini. Bukannya menghidrasi melainkan makin membuat bibir semakin kering karena air ludah yang kemudian menguap, mengering tidak mempertahankan kelembaban bibir.

8603998496_370f20ed50

Penyebab pasti dari Cheilitis Exfoliative hingga kini masih belum dapat dijelaskan secara tepat. Namun, ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi bibir pecah – pecah ini, antara lain:

– Sering membasahi bibir dengan air ludah, atau menjilat bibir.

– Kebiasaan menggigit – gigit bibir

– Kurangnya asupan air dalam tubuh

– Stress atau hormonal

– Kesehatan gigi dan mulut yang buruk

– Gizi tidak seimbang

– Gangguan Liver

 

img-drinking-water-systemsfruit-and-vegetable-basket670px-Cure-Exfoliative-Cheilitis-Step-4

 

Lantas, bagaimana menanganinya?

Yang harus diperhatikan adalah mencari tau faktor yang menyebabkan terjadinya cheilitis exfoliative ini.

– Hentikan kebiasaan menjilat atau mengigit bibir

– Perbanyak Minum Air putih

– Hindari toksin dan biasakan makan makanan sehat

– Perbanyak makan sayur dan buah – buahan segar

– Hindari stress

– Jaga kebersihan gigi dan mulut

– Gunakan Pelembab Bibir yang lembut

– Periksakan ke dokter gigi rutin, 6 bulan sekali.

– Periksakan ke dokter umum untuk mengetahui apakah ada kelainan atau malfungsi pada ginjal, liver, dan organ lainnya.

 

Semoga Bermanfaat,

Salam.

Healthy Teeth for Healthy Life.

 

References:

– http://www.cda-adc.ca/jcda/vol-73/issue-7/629.pdf

– http://www.wikihow.com/Cure-Exfoliative-Cheilitis

Benarkah Merokok Dapat Mengganggu Kesehatan Gigi dan Mulut??

“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin”

Slogan itulah yang umumnya menjadi pusat perhatian bagi masyarakat umum. Hampir tidak pernah ada slogan yang menyebutkan bahwa merokok juga menyebabkan gangguan kesehatan gigi dan mulut. Pasti anda bertanya, “memang bisa?”

Tentu saja bisa, dan sudah pasti iya. Penasaran? Jadi begini ceritanya,

cigar

Orang yang merokok memiliki karakteristik yang khas pada mulutnya, diantaranya:

Bau mulut yang khas
Perubahan warna gigi dari mulai kekuningan, cokelat, hingga bercak kehitaman.
– Bibir dan gusi yang berwarna kehitaman
– Mudah terbentuk plak dan karang gigi

smoker melanosisSmoker’s Melanosis (Pigmentasi Kehitaman akibat Merokok)

 

Rokok, dan segala kandungan didalamnya memang tidak secara langsung menyebabkan penyakit gigi dan mulut tetapi seiring berjalannya waktu, kebiasaan merokok dapat menyebabkan hal – hal berikut:

– Meningkatkan resiko penurunan tulang rahang
– Meningkatkan resko adanya leukoplakia, bercak putih didalam mulut
– Meningkatkan resiko penyakit gusi, dari yang ringan hingga berat menyebabkan gigi goyang dan tanggal
– Menyebabkan tertundanya proses penyembuhan setelah pencabutan gigi, perawatan gusi, atau bedah mulut
– Menurunkan tingkat keberhasilan prosedur pemasangan implan gigi.
– Meningkatkan resiko berkembangnya kanker mulut.

Periodontal-Disease

Merokok, menyebabkan terganggunya aktivitas sel imun, sehingga ketika plak dan karang gigi menempel di permukaan gigi yang dekat dengan gusi, bakteri akan dengan mudah masuk kedalam gusi. Bakteri tersebut kemudian dengan bebas merusak tulang, membuat tulang menjadi turun dan semakin rendah. Bila sudah demikian, maka selanjutnya yang terjadi adalah kegoyangan gigi karena sudah tidak lagi ditopang oleh tulang.

Merokok juga mengganggu aktivitas sel – sel darah yang diperlukan untuk penyembuhan luka. Tindakan pencabutan gigi pada pasien merokok memiliki tingkat kesembuhan yang lebih rendah dibanding pasien yang bukan perokok. Merokok menggangu jalannya sel – sel darah yang sedang bekerja menutup luka, membuat luka kembali terbuka, lambat sembuh atau malah tidak sembuh sama sekali. Itulah mengapa setelah tindakan pencabutan dokter gigi selalu  menganjurkan pasiennya untuk tidak merokok minimal 3 – 5 hari paska tindakan.

 oralcancer2Kanker Mulut Akibat Merokok

 

Terlambatkah bila berhenti merokok sekarang?

Tidak ada kata terlambat untuk hal – hal yang baik. Dengan berhenti merokok, maka jaringan gusi akan mengalami perbaikan secara bertahap.

Tentu, tidak pulih dengan sendirinya, tetapi dengan bantuan dan pantauan dokter gigi. Seiring program berhenti merokok, sebaiknya lakukan kunjungan rutin ke dokter gigi untuk dilakukan perawatan gusi, sesuai indikasi. Terkadang dokter gigi juga memerlukan rontgen untuk mengetahui seberapa jauh kerusakan tulang rahang pada pasien. Dengan bekerja sama dengan dokter gigi umum maupun spesialis periodontik kerusakan tulang dan penyakit gusi yang terjadi bisa diatasi, meski pemulihanya tidak secepat pasien yang tidak merokok.

Harapan sembuh selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Jauhi rokok, sayangi gigi dan mulut, sayangi paru – paru, dan terutama, sayangi keluarga anda.

Salam,

Healthy Teeth for Healthy Life. 😀

 

Referensi:

– http://www1.umn.edu/perio/tobacco/tobperio.html

– http://www.webmd.com/oral-health/guide/smoking-oral-health

– http://www.adelaide.edu.au/arcpoh/dperu/cpep/info/smoking.html

Tips Merawat & Membersihkan Gigi Palsu

Anda termasuk pemakai gigi palsu? jika ya, berikut saya bagikan tips mudah membersihkan dan merawat gigi palsu anda sehingga tetap bersih, tidak berbau, dan lebih tahan lama.

  • Lepaslah gigi palsu anda setelah makan, kemudian bilas dengan air mengalir agar gigi palsu bersih dari sisa makanan. Pastikan tidak terjatuh/terlepas dari genggaman anda. Bisa dibantu dengan meletakkan alas seperti handuk kecil dibawahnya untuk menghindari patahnya gigi palsu anda. Pegang gigi palsu anda dengan tekanan cukup, tekanan berlebihan hanya akan merusak gigi palsu anda.

rinse dentures

  • Bersihkan gigi dan mulut anda setelah melepas gigi palsu. Gunakan sikat gigi berbulu lembut pada gigi asli anda. Bersihkan juga lidah dan langit – langit anda dengan kasa atau sikat gigi ekstra lembut.

Sikat Gigi Dentures

  • Gosok gigi palsu anda setidaknya sehari sekali. Gosok gigi palsu anda menggunakan denture cleaner, sabun lembut atau pasta gigi yang sedikit kandungan detergennya dan sikat gigi ekstra lembut atau sikat gigi khusus gigi palsu untuk menghilangkan sisa makanan, plak, dan deposit lainnya. Hindari sikat gigi berbulu kaku dan kasar, pembersih kuat dan pasta gigi yang abrasif seperti pasta gigi pemutih (whitening) karena akan merusak permukaan gigi palsu anda.

brushing dentures

  • Rendam gigi palsu anda ketika malam hari. Saat anda tidur, lepaslah gigi palsu anda kemudian rendam dalam larutan khusus gigi palsu dengan air hangat. Pastikan bukan air panas karena dapat mengubah ukuran gigi palsu anda. Jangan direndam dengan larutan chlorine (pemutih). Pastikan seluruh bagian gigi palsu anda terendam dalam larutan tersebut.

soaking dentures 2

  • Ketika pagi hari, bilas dahulu gigi palsu anda yang sudah direndam tadi sebelum dipakai kembali, terutama jika direndam dengan larutan khusus gigi palsu. Jangan lupa bersihkan tempat bekas merendam gigi palsu anda agar bisa digunakan malam berikutnya.

clean the box

  • Jadwalkan untuk kontrol gigi rutin ke dokter gigi anda. Dokter gigi anda akan memberitahukan kepada anda seberapa sering anda harus periksa ke dokter gigi untuk memeriksa kebersihan dan kondisi gigi asli maupun gigi palsu anda. Dokter gigi juga bisa membantu anda untuk kembali menyesuaikan gigi palsu yang dirasa sudah mulai tidak nyaman. Jangan biarkan gigi palsu anda terlanjur longgar dan mudah lepas, karena gigi palsu yang tidak pas dapat menyebabkan iritasi, sariawan, dan infeksi.

Ternyata mudah ya merawat dan membersihkan gigi palsu,

Salam..

Healthy Teeth for Healthy Life.

 

Sumber:

– http://www.mayoclinic.org/denture-care/expert-answers/faq-20058375 (accessed on sunday, 17th august 2014)

– http://www.wikihow.com/Clean-Dentures  (accessed on sunday, 17th august 2014)

Nahh,, masih berani sahabatan sama rokok?? Hehehehe

View on Path

Hari gini masih takut cabut gigi ??

Berbagai pertanyaan pasti sering muncul dikepala pasien yang akan menjalani pencabutan gigi. Rasa takut berlebihan juga seringkali menguasai pasien mulai dari rasa takut disuntik, rasa takut akan komplikasi serius yang terjadi setelah pencabutan, hingga rasa takut tanpa alasan yang mengganggu proses pencabutan.

PADAHAL,, para dokter gigi ditunjang dengan teknologi yang telah maju, membuat tindakan pencabutan gigi tidaklah semenakutkan seperti yang kita kira. Tindakan pencabutan gigi bukanlah sesuatu yang menyeramkan dengan resiko kematian. TETAPI, memang benar ada berbagai hal yang harus diperhatikan sebelum dan sesudah pencabutan gigi.

  extraction_steps
Apa sih pencabutan gigi itu?
Pencabutan gigi adalah dilepaskannya atau dicabutnya gigi geligi dari soket (tempat gigi) dalam tulang rahang.
Mengapa pencabutan gigi dilakukan?
Suatu gigi perlu dilakukan pencabutan dengan alasan sbb:
  • Gigi yang mengalami impaksi (gigi dengan posisi tertanam baik sebagian maupun seluruhnya didalam tulang dan jaringan gusi, yang mengganggu gigi didekatnya), dan tumbuhnya tidak dalam posisi normal (Miring).
  • Gigi yang mengalami karies (gigi berlubang) dan tidak dapat dilakukan penambalan lagi.
  • Gigi yang patah dan tidak bisa dilakukan penambalan maupun pembuatan crown.
  • Untuk mendapatkan ruangan dalam mulut sebelum atau selama proses meratakan gigi geligi (bracket/perawatan orthodontik)
  • dan lain – lain sesuai dengan indikasi dan pertimbangan dokter gigi.

 

Apa yang perlu diperhatikan sebelum pencabutan gigi?

Sebelum pencabutan gigi, dokter gigi akan menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan pilihan tindakan pencabutan gigi.

  • Penyakit sistemik seperti asma, diabetes mellitus, penyakit jantung, hepatitis, alergi, hipertensi, dll
  • Kondisi gigi yang akan dicabut apakah masih terasa sakit atau tidak, bengkak atau tidak, posisi gigi (tertanam, miring, sisa mahkota, ataupun sisa akar).

 

Pencabutan bisa saja ditunda, dikarenakan satu dan/atau beberapa hal, misalnya:

  • Infeksi, yang sedang menyebar dari gigi ke tulang. Dalam kondisi ini, infeksi harus dirawat/diatasi terlebih dahulu dengan pemberian antibiotik sebelum dilakukan pencabutan.
  • Jika pasien mengkonsumsi obat – obatan pengencer darah (antikoagulan) seperti dicumarol atau aspirin, maka biasanya diajurkan untuk menghentikan medikasi setidaknya tiga hari sebelum pencabutan. (*biasanya bekerjasama/merujuk kepada keputusan dokter umum yang merawat pasien tersebut).
  • Pasien yang mengalami prosedur berikut selama 6 bulan sebelumnya (penggantian katup janting, bedah jantung, atau penggantian sendi prosthetik akan diberikan antibiotik untuk meredakan resiko infeksi bakteri.
  • Pasien dengan penyakit sistemik yang tidak terkontrol, ataupun yang baru saja keluar dari perawatan intensif (rawat inap) dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pencabutan gigi.

local-anesthesia-mouth

Tindakan pencabutan gigi

  • Pencabutan gigi dilakukan dibawah anestesi lokal pada sebagian besar kasus. Sebuah alat yang dinamakan elevator digunakan untuk melonggarkan (luksasi) gigi dari tulang alveolar atau tulang rahang dengan merusak ligamen yang menahan gigi pada tempatnya.
  • Bila gigi belum sepenuhnya erupsi, maka dilakukan pengurangan gusi dan jaringan tulang disekitarnya terlebih dahulu untuk mendapatkan akses ke gigi. Setelah pencabutan, penyembuhan biasanya memerlukan waktu satu hingga dua minggu dan sedikit pembengkakan atau perdarahan dianggap normal pada 24 jam pertama setelah pencabutan.
  • Penting untuk mencegah blood clot (bekuan darah) terlepas  dari luka pencabutan. Jika hal ini terjadi, disebut dengan dry socket (suatu kondisi yang menyebabkan rasa sakit hebat dimana blood clot tidak sepenuhnya mengisi soket). Dry socket meninggalkan tulang dibawahnya terbuka sehingga mudah terpapar dengan udara dan sisa makanan. Hal ini bisa menyebabkan infeksi serius.

 

exo tools

 

Hal – hal yang perlu diperhatikan setelah pencabutan

  • Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah pembentukan clot (gumpalan) darah dalam daerah pencabutan.
  • Gigit kapas/tampon kurang lebih 1 jam setelah pencabutan.
  • Pasien dilarang merokok selama minimal 3 hari, dan hanya makan makanan lunak
  • Pasien dilarang berkumur terlalu keras, dan dilarang makan makanan lengket dan keras
  • Pasien harus menjaga kebersihan mulut terutama didaerah bekas pencabutan
  • Pasien dilarang makan/minum panas, sebaiknya kompres dingin pipi bagian daerah pencabutan untuk mengurangi pembengkakan
  • Obat – obatan yang diberikan sesuai indikasi harus diminum sesuai anjuran dokter.
  • Bila perlu, kontrol satu minggu setelah pencabutan, kembali ke dokter gigi untuk memastikan penyembuhan berjalan dengan baik.
Do’s and Dont’s After a Tooth Extraction

 

Sekarang, pencabutan tak lagi menyeramkan. Semua bisa dikomunikasikan dengan dokter gigi anda. Proses anestesi pun jadi lebih menyenangkan karena ada beberapa tipe anestesi yang bisa anda pilih, baik konvensional + topikal, maupun sitojet + topikal. Untuk lebih jelasnya silahkan hubungi dokter gigi anda.

 

Salam sehat,

Healthy Teeth for Healthy Life.

 

Nafsu Makan berkurang, karena SARIAWAN???

Sebagian besar orang pasti pernah mengalami sariawan. Kalau sedang sariawan, biasanya nafsu makan pun berkurang karena mulut terasa sakit, tidak nyaman, perih, dll. Mengganggu sekali ya? Apalagi kalau sariawannya kambuhan, setiap akan menstruasi, atau sedang sters, sariawan menyebalkan itupun timbul. Lantas Apa sih sariawan itu? Mengapa sering terjadi, terutama pada wanita menjelang menstruasi dan ibu hamil? Lalu bagaimana menanganinya??

Sariawan atau istilah kedokterannya Aphtous ulcer adalah suatu luka atau ulserasi yang mengenai membran mukosa mulut. Biasanya sariawan timbul pada usia produktif, 20 – 30 tahunan, namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada rentang usia lainnya.

Penyebab sariawan sebenarnya masih belum diketahui, namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya sariawan dalam mulut kita, antara lain:

–          Faktor imun

–          Infeksi (Misal: infeksi virus seperti HSV-1, Varicella Zooster, dan Cytomegalovirus)

–          Gangguan nutrisi (Misal: kekurangan vit. B12, asam folat, besi, kondisi – kondisi malabsorpsi seperti Celiac Disease (pasien yang sensitif terhadap gluten) dan Crohn’s Disease)

–          Perubahan hormon

–          Stress

–          Trauma

–          Alergi makanan

–          Penderita HIV +

–          Genetik

–          Faktor sistemik

 

Gejala klinis sariawan yaitu adanya luka atau ulcer berbentuk bulat atau oval berwarna putih dikelilingi halo erythema (kemerahan), berbatas jelas, dan terasa sakit. Rasa sakitnya bervariasi, mulai dari yang ringan (apthous minor) hingga yang parah (aphtous mayor). Terkadang sariawan ini bersifat kambuhan (rekuren).

 

minor aphtous

 

Minor Aphtous Ulcer

Sariawan umumnya bukanlah penyakit menular, namun bila terinfeksi, seperti pada kasus pasien HIV +, maka sariawan bisa menjadi media penularan virusnya. Sebagian besar pemicu sariawan adalah stress dan perubahan hormonal. Inilah yang membuat sariawan lebih banyak timbul pada perempuan dibandingkan laki – laki. Ketika menjelang menstruasi, dan wanita hamil biasanya rentan mengalami sariawan karena adanya perubahan hormonal dalam dirinya.

mayor aphtous

        Mayor Aphtous Ulcer

Sariawan (aphtous ulcer) harus dibedakan dengan sariawan karena trauma (traumatik ulcer) karena beda penyebabnya dan biasanya tidak kambuhan seperti aphtous ulcer. Gejala klinis Aphtous ulcer yaitu adanya ulcerasi atau luka disertai rasa sakit di jaringan lunak mulut yang tak berkeratin seperti pipi, bibir, lidah, dasar mulut, palatum lunak, dan uvula. Biasanya, penderita sariawan ini mengalami gejala- gejela (prodromal) sebelumnya seperti rasa tidak nyaman, erythema atau kemerahan 1-3 hari sebelum sariawan itu timbul. Aphtous ulcer memiliki tiga tipe, yaitu minor, mayor, dan herpetiform.

 

Minor Mayor Herpetiform
Jumlah 1 – 6 bh 1 – 3 bh 10 – 100
Diameter < 0,5 cm
  • 0,5 cm
1 – 3 mm
Masa Penyembuhan 6 – 10 hari 3 – 6 minggu 10 – 15 hari
Scar/Bekas Tdk Ya Tdk

 

herpetiform

Herpetiform Aphtous Ulcer

 

Aphtous ulcer mesti dibedakan dengan beberapa penyakit mulut lainnya yang gejala klinisnya serupa dengan aphtous ulcer antara lain: traumatik ulcer, herpes rekuren, pemphigus vulgaris, cicatricial pemphigoid, Crohn’s disease, neutropenia, Celiac disease, dan CMV.

Sebenarnya tidak ada terapi yang tepat untuk sariawan ini, karena penyebab utamanya masih belum diketahui. Namun, ada beberapa yang bisa dilakukan untuk membantu mempercepat masa penyembuhan sariawan seperti obat topical (salep) 5% amlexanox oral paste (Aphthasol). Untuk sariawan yang dipicu oleh faktor imun, bisa menggunakan obat golongan kortikosteroid (sediaan salep untuk kasus yang ringan, sediaan oral/sistemik untuk kasus yang berat) namun harus dengan pengawasan dokter.

Agen topikal (salep) yang paling efektif sekarang ini adalah 0.1% triamcinolone acetonide dalam suatu oral adhesive base (Orabase), 0,5% fluocinonide gel (Lidex gel) atau 0.05% clobetasol propionate gel (Temovate) yang diaplikasikan 3-6 kali sehari selama 4-6 hari.

Sedangkan untuk kasus yang lebih berat terutama yang terkait penyakit sistemik sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter gigi ahli penyakit mulut karena memerlukan pengobatan rutin dalam pengawasan dokter.

Sebenarnya tujuan terapi sariawan adalah menghilangkan rasa sakitnya, memperpendek masa penyembuhan, dan menghindari kekambuhan. Jadi, sariawan tidak selalu harus diberi obat, kecuali yang terkait infeksi, dan pada kasus yang berat mengenai banyak daerah dalam mulut.

Yang terpenting adalah tetap menjaga kebersihan mulut, dengan menyikat gigi dua kali sehari, dan berkumur dengan obat kumur yang tidak mengandung alkohol dua hari sekali, agar mulut tidak kering.

Bila mulut bebas sariawan, makan pun jadi lebih nyaman, senyum pun makin lebar..

Salam,

Healthy Teeth for Healthy Life

 

*Regezi, Joseph A, 1999. Oral Pathology, Clinical Pathologic Correlations 3rd ed. WB Saunders: Philadelphia.

**Laskaris, George. 2005. Treatment of Oral Disease. Thieme: Germany.

Lebih baik mencegah drpd mengobati,, cegah KANKER SERVIKS dg VAKSIN, sekarang!! *info vaksin: drg.diba (LINE)

View on Path